Translate

Cara Melanjutkan Baca

cara downlaod File :

1. klik file yang akan di download
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
3. klik unduh
4. lalu tunggu 20 detik mengunduh file tersebut

atau cuma ingin melanjutkan BACA Blog :

1. klik file yang akan di buka
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
Ada kesalahan di dalam gadget ini
http://seputarduniapengetahuan.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengunjung Saya


free statistics

Pengikut

Sabtu, 26 Januari 2013
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam bidang kesehatan masyarakat, para ahli senantiasa memusatkan perhatian pada masalah-masalah kesehatan yang menyangkut orang banyak. Di masa lampau wabah penyakit dan bencana alam silih berganti mengancam kehidupan umat manusia, namun berkat kemajuan ilmu kedokteran, dewasa ini banyak diantara wabah penyakit tersebut telah dapat dikendalikan (11).
Pada umumnya negara maju dapat menikmati taraf kesehatan rata-rata lebih baik, akan tetapi negara yang sedang berkembang masih berjuang untuk mendapatkan pemerataan kesehatan. Dalam suasana demikian ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ada satu jenis penyakit yang dapat berjangkit dengan cepat tanpa memandang bulu baik dinegara maju maupun dinegara sedang berkembang, yakni penyakit AIDS.
Dewasa ini, Acquired Immune Deficiency (AIDS) merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian dunia. WHO meramalkan bahwa jumlah penderita AIDS dan kematian akibat AIDS seluruh dunia akan meningkat 10 persen dalam waktu 8 tahun mendatang, yaitu dari satu setengah juta saat ini menjadi 12-18 juta pada tahun 2000 (4,5,6,7,8). Penyakit ini memang mempunyai angka kematian yang tinggi dimana hampir semua penderita AIDS meninggal dalam waktu lima tahun sesudah menunjukkan gejala pertama AIDS (Depkes 1988) (5).
Di Indonesia, kasus AIDS yang pertama kali dilaporkan adalah seorang wisatawan laki-laki berkebangsaan Belanda yang meninggal di Bali pada tahun 1987. Kasus kedua juga orang asing sedangkan kasus berikutnya terjadi pada seorang pria Indonesia yang juga meninggal di Bali (1,2). Sejak itu, jumlah penderita AIDS terus meningkat. Hal ini terlihat dalam data kumulatif Depkes RI dari 15 Propinsi dimana sampai bulan Maret 1995 kasus AIDS sudah mencapai 288 orang (7,9). Di propinsi Sumatera Utara dilaporkan adanya dua kasus yang menderita HIV positif dan kemungkinan kasus ini akan bertambah banyak.
AIDS merupakan penyakit yang fatal, menular dan sampai sekarang belum ada obatnya. Penderita AIDS tetap menularkan penyakit sepanjang hidupnya dan biasanya HIV menyerang usia produktif. Masalah AIDS menjadi lebih berat lagi karena pada kasus seropositif, penderita biasanya merasa sehat dan dari penampilan luar juga tampak sehat namun merupakan pembawa virus yang asimtomatik dan dapat menularkan HIV kepada orang lain (12).
Sebagaimana diketahui bahwa penularan HIV/AIDS dapat terjadi melalui hubungan seksual, pemakaian jarum suntik secara bergantian, tranfusi darah serta oleh ibu yang terinfeksi kepada bayi yang dikandungnya (2,4,5,6). Yang perlu diperhatikan bahwa seorang pengidap HIV dapat tampak sehat tetapi potensial sebagai sumber penularan seumur hidup (1).
Ketakutan terkena infeksi AIDS telah melanda semua orang termasuk dokter gigi sebagai salah seorang tenaga kesehatan oleh karena dalam prakteknya mereka selalu berkontak dengan saliva dan darah. Cara penularannya dapat berupa infeksi silang antara pasien ke pasien melalui alat-alat tercemar (6). Dibidang kedokteran gigi, tindakan perawatan yang beresiko penularan antara lain berupa pencabutan gigi, pembersihan karang gigi, pengesahan gigi terutama didaerah servikal, insisi serta tindakan lain yang dapat menimbulkan luka. Walaupun kemungkinan kecil, tetapi mempunyai resiko yang pasti (6,8). Atas dasar itulah Oral Health Department WHO menghimbau para dokter gigi di seluruh dunia agr melakukan tindakan pencegahan untuk melindungi pasien maupun dirinya sendiri (6).
Di Amerika Serikat dilaporkan 2 orang penderita tertular HIV dipraktek dokter gigi serta diperoleh bukti bahwa mereka tertular ditempat praktek dokter gigi yang tidak melakukan tindakan pencegahan secara ideal (FDI, 1991). Apabila di negara maju masih terdapat hal semacam itu, maka dapat diasumsikan bahwa di negara berkembang seperti Indonesia tindakan pencegahan masih belum memadai.
Perkembangan AIDS sejauh ini telah memberikan banyak perubahan dalam mutu pelayanan kesehatan, bukan saja karena penyakit ini merupakan penyakit baru tetapi juga merupakan penyakit yang telah memakan banyak porsi dana kesehatan. Hal ini merupakan suatu tantangan bagi tenaga kesehatan untuk mempersiapkan diri dan agar dapat menciptakan sistem perawatan yang semakin baik (6).
BAB 2
ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME (AIDS)

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome, diterjemahkan secara bebas sebagai sekumpulan gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan yang didapat dari faktor luar dan bukan bawaan yang sejak lahir. Jadi, sebenarnya AIDS merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit infeksi atau keganasan tertentu yang timbul sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh atau kekebalan penderita (12).
2.1. Sejarah AIDS dan Perkembangannya
Sindrome ini pertama sekali dilaporkan oleh Michael Gottlieb pada pertengahan tahun 1981 pada penderita pria homoseksual dan pecandu narkotik suntik di Los Angeles, Amerika Serikat. Sejak penemuan pertama inilah, dalam beberapa tahun dilaporkan lagi sejumlah penderita dengan sindrome yang sama dari 46 negara bagian Amerika Serikat lainnya (2).
Cepatnya penyebaran AIDS ini keberbagai benua, serta dampak yang terlihat pada penderita beserta keluarganya, disamping belum diketahuinya cara penanganan dan pengobatannya menyebabkan keresahan psikososial yang sangat besar dikalangan masyarakat dimana kasus AIDS banyak terjadi.
Pada tahun-tahun pertama ditemukannya penyakit ini belum diketahui bahwa agennya adalah retrovirus, namun diperkirakan bahwa penyebabnya adalah agen yang dapat menular. Baru pada akhir tahun 1983, para peneliti menemukan satu jenis retrovirus yang mulanya diberi nama Lympadenopati associated virus, dan pada bulan Mei tahun 1986 disepakati menggunakan satu nama saja yaitu Human Immunodeficiency Virus (HIV) (5,12,14,22.24,25).
2.2. Epidemiologi AIDS
Di Amerika Serikat, pengumpulan data epidimiologi dilakukan oleh Centres for Disease Control (CDC) yang berasal dari daerah epidemi mulai tahun 1991, ditemukan bahwa mayoritas penderita AIDS dewasa dilaporkan kaum homoseksual/biseksual adalah 59%, pengguna obat secara intravena 22% dan laki-laki homoseksual yang menggunakan obat secara intravena 7%. Pasangan seksual dari ibu yang terinfeksi HIV ternyata seropositif terhadap HIV. Pasien hemofilia dan penerima tranfusi darah merupakan kelompok terkecil dan jumlahnya terus berkurang sejak dilakukan screening terhadap donor yang terkontaminasi HIV yang dilaksanakan sejak tahun 1985.
Secara umum dapat dipercaya bahwa kebanyakan penderita infeksi HIV akan menjadi penderita AIDS. Walaupun waktu terinfeksi HIV dengan diagnosa AIDS bervariasi, hasil penelitian melaporkan bahwa periode inkubasi sekitar 5-10. Dengan ditemukannya obat seperti zidovidume, yang juga dikenal sebagai azidothymidine (AZT), ternyata bahwa dapat memperpanjang masa inkubasi. Diperkirakan angka kematian 90% selama 3 tahun dengan diagnosa AIDS.
2.3. Patogenesis
HIV secara selektif akan menginfeksi sel yang berperan membentuk zat anti pada sistem immunitas selluler yaitu sel limfosit T4. Limfosit T4 menjadi sasaran dari virus ini karena sel tersebut mempunyai CD4 antigen pada membrannya, yang dapat berperan sebagai reseptor untuk virus tersebut. Selain sel limfosit T4 yang yang menjadi sasaran HIV, terbukti kemudian adalah sel lain yang juga mempunyai CD4 antigen pada membrannya sehingga menjadi target dari HIV. Sel lain tersebut adalah sel monosit-makrofag, dan beberapa sel hemopoesis di dalam sum-sum tulang (8).
HIV sebagai virus RNA mempunyai enzim reverse transcriptase dimana pada kejadian infeksi mampu membentuk virus DNA. Virus DNA yang terbentuk ini masuk kedalam inti sel target dan berintergrasi dengan DNA dari host dan menjadi provirus (DNA Provirus). DNA provirus yang telah berintergrasi dengan sel DNA dari host (sel limfosit T4) akan ikut mengalami replikasi pada setiap terjadi proliferasi sel. Setiap hasil replikasi DNA ini selanjutnya akan menghasilkan virus RNA, enzim reverse transcriptase dan protein virus. Demikian peristiwa infeksi HIV ini berlangsung (4,14,15).
2.4. Gambaran Penyakit
Secara klinis gambaran penyakit yang diakibatkan oleh infeksi HIV ini dapat terlihat dalam 4 tahap berurutan. Tahap-tahap ini sangat berkolerasi dengan gambaran laboratorium akibat perubahan fungsi imunitas dan aktivitas virus.
1. Tahap pertama, tahap infeksi primer (primary infection)
Tahap ini terlihat setelah beberapa minggu terpapar HIV, ditandai dengan gejala demam, sakit tenggorokan, lesu dan lemas, sakit kepala, fotofobia, limpadenopati serta berecak makulopapular. Tahap ini biasanya berlangsung sekitar satu atau dua minggu lebih dan ditemukan pada hampir 70% peristiwa infeksi HIV.
2. Tahap kedua, tahap infeksi dini (early infection)
Tahap ini merupakan nama laten virus yang dapat berlangsung selama beberapa bulan sampai beberapa tahun. Umumnya penderita asimtomatik kecuali beberapa diantaranya dengan limpadenopati umum.
3. Tahap ketiga, tahap infeksi menengah (middle infection)
Tahap ini itandai dengan munculnya kembali antigen HIV serta penurunan sel limfosit T sehinngga penderita menjadi sangat rentan terhadap berbagai kondisi dan infeksi. Kandiasis di mulut dan oral hairy leukoplakia serinng terlihat pada tahap ini.
4. Tahap keempat, tahap sakit HIV berat (severe HIV disease)
Tahap ini ditandai dengan timbulnya infeksi oportunistik dan neoplasma yang menyebabkan keadaan sakit berat dengan angka kematian yang tinggi. Tahap inilah yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)
Pengalaman menunjukkan bahwa resiko masuknya ketahap sakit HIV berat atau AIDS meningkat sejalan dengan lamanya infeksi. Dalam keadaan penderita tidak mendapatkan pengobatan terhadap retrovirusnya, sekitar 50% penderita HIV ini sampai ketahap AIDS kira-kira sesudah 10 tahun.
2.5. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium sangat besar perananya dalam menetapkan diagnosis dan gambaran perjalanan penyakit serta dalam menentukan tindakan pengobatan, karenadalam banyak hal tidak dapat memberi petunjuk terhadap perkembangan penyakit khususnya padamasa asintomatik laten (20).
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan antigen atau antibody terhadap HIV didalam darah. Untuk itu digunakan pemeriksaan dengan tes Elisa (Enzim linked immunosorbent assay) sebagai pemeriksaan penyaring, yang apabila positif lebih lanjut dikonfirmasikan dengan pemeriksaan Westren Immunoblot (WB) (12, 14,18,25). Baru-baru ini diperkenalkan dengan satu cara pemeriksaan yang lebih akurat yaitu tes PCR atau Polymerase Chain Reactions.
2.6. Cara Penularan
AIDS adalah merupakan penyakit yang fatal dan menular. Jalan utama untuk tranmisi HIV adalah kontak seksual (homoseksual atau heteroseksual) tranmisi jarum suntik dan alat kesehatan lain, tranmisi perinatal (dari ibu ke anak dalam persalinan), tranmisi darah dan produk darah serta tranmisi dalam pelayanan kesehatan yaitu pada pekerja rumah sakit yang berkontak dengan darah atau cairan tubuh pasien dengan infeksi HIV (4,5,8,10,14,15,25).
Sekalipun penyelidikan secara epidemologi menunjukkan bahwa darah dan semen merupakan jalur penularan utama virus AIDS, telah dilaporkan bahwa HIV juga ditemukan dalam saliva, air mata, air susu ibu dan urin (8,10). Penularan melalui saliva sampai saat ini memang diragukan karena jumlah virus dalam saliva amat kecil sehingga tidak potensial untuk penularan. Hasil beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa sebenarnya saliva dapat menghambat virus HIV agar tidak menginfeksi limfosit manusia disamping fungsi saliva sendiri sebagai pelindung karena mengandung sejumlah protein saliva. Resiko penularan dalam tindakan kedokteran diperkirakan melalui saliva yang tercampur darah karena luka yang timbul dalam perawatan (24).
Disamping perawatan gigimemungkinkan terjadinya pendarahan, penggunaan hanplece berkecepatan tinggi, alat ultrasonic dan adanya kontak dengan sejumlah besar pasien juga memungkinkan terjadinya infeksi dan kontaminasi bagi dokter gigi sangat besar (24). Prosedur perawatan yang berakibat terjadinnya pendarahan adalah pencabutan gigi, pembedahan, perawatan periodontal, pembersihan karang gigi dan lain-lain. Pada dasarnya, instrumen yang menembus jaringan lunak atau yang akan menyebabkan pendarahan atau kontak dengan selaput lendir yang utuh seperti jarum suntik, jarum endodontik, tang ekstaksi merupakan instrumen yang tergolong beresiko tinggi (8).Hingga saat ini belum terbukti bahwa AIDS dapat ditularkan oleh gigitan serangga, minuman, makanan atau kontak biasa dalam keluarga, sekolah, kolam renang, WC umum atau tempat kerja dengan penderita AIDS (5).
BAB 3
GEJALA KLINIS DAN MANIFESTASI AIDS DIRONGGA MULUT

3.1. Gejala Klinis AIDS
AIDS mempunyai spectrum yang luas pada gambaran klinis. Pada awal permulaan terdapat gejala-gejala seperti terkena flu. Penderita merasa lelah yang berkepanjangan dan tanpa sebab, kelenjar-kelenjar getah bening dileher, ketiak, pangkal paha membengkak selama berbulan bulan, nafsu makan menurun/hilang, demam yang terus menerus mencapai 39 derajat Celcius atau berkeringat pada malam hari, diarrhea, berat badan turun tampa sebab, luka-luka hitam pada kulit atau selaput lendir yang tidak bias ssembuh, batuk-batuk yang berkepanjangan dan dalam kerongkongan, mudah memar atau pendarahan tanpa sebab. Gejala-gejala awal ini sering disebut AIDS Related Complex (ARC). Bila keadaan penyakit ini meningkat, penyakit ganas lain berkembang seperti: radang paru (penumocytis carinii), kandiasis oesophagus, cytomegalovirus atau herpes, sarcoma kaposi, tumor ganas pembuluh darah (3,19,23).
3.2. Manifestasi AIDS dirongga mulut
Sekitar 95% penderita AIDS mengalami manifestasi pada daerah kepala dan leher sebagaimana juga menurut Shiod dan Pinborg 1987. Manifestasi di mulut seringkali merupakan tanda awal infesi HIV (16).
3.2.1 Infeksi karena jamur (Oral Candidiasis)
Kandiasi nulut sejauh ini merupakan tanda di dalam mulut yang paling sering dijumpai baik pada penderita AIDS maupun AIDS related complex (ARC) dan merupakan tanda dari manifestasi klinis pada penderita kelompok resiko tinggipada lebih 59% kasus.
Kandiasis mulut pada penderita AIDs dapat terlihat berupa oral thrush, acute atrophic candidiasis, chronic hyperplastic candidiasis, dan stomatis angularis (Perleche).
3.2.2 Infeksi karena virus
Infeksi karena virus golongan herpes paling sering dijumpai pada penderita AIDS dan ARC. Infeksi virus pada penderita dapat terlihat berupa stomatis herpetiformis, herpes zoster, hairy leukoplakia, cytomegalovirus.
3.2.3 Infeksi karena bakteri
Infeksi karena bakteri dapat berupa HIV necrotizing gingivitis maupun HIV periodontitis.
a. HIV necrotizing gingivitis
HIV necrotizing gingivitis dapat dijumpai pada penderita AIDS maupun ARC. Lesi ini dapat tersembunyi atau mendadak disertai pendarahan waktu menggosok gigi, rasa sakit dan halitosis.

Tulisan di atas masih belum lengkap keterangannya, untuk hasil yang lebih lengkap dan jelas dalam bentuk PDF, silahakan download disini

Related Post



0 komentar:

Popular Posts

Berita Hari Ini