Translate

Cara Melanjutkan Baca

cara downlaod File :

1. klik file yang akan di download
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
3. klik unduh
4. lalu tunggu 20 detik mengunduh file tersebut

atau cuma ingin melanjutkan BACA Blog :

1. klik file yang akan di buka
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
Ada kesalahan di dalam gadget ini
http://seputarduniapengetahuan.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengunjung Saya


free statistics

Pengikut

Kamis, 07 Juni 2012
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam memiliki berbagai dimensi. Salah satu dimensi yang ada di dalam agama ini adalah dimensi ajaran atau doktrin. Dimensi ini menjadi titik tekan utama pengembangan Islam di masyarakat dan dilakukan melalui dua pola yang saling terkait dan menimbulkan causa per affectum “sebab akibat”, yaitu pola doktrinasi. Sedangkan pembahasan tentan studi Al-Qur’an meliputi pemaparan topik-topik yang menjadi wilayah kajian al-Qur’an dilanjutkan dengan model tafsir sepanjang sejarah, yakni: tahlili (metode analitis), ijmali (metode global), muqaran (metode perbandingan), dan maudu’i (metode tematik). Sementara dalam pembahasan hadis nabi meliputi pemaparan topik-topik yang menjadi wilayah kajian hadis, ditambah dengan kupasan model pendekatan dalam kajian hadis. Untuk memperoleh aneka ragam metode yang dikembangkan oleh para Mufassir, tidaklah semudah makan kurma, karena disamping mereka tidak memberikan metode yang dipakai memang belum didapati buku yang secara tersendiri menghimpun metode-metode itu. Oleh sebab itu bagi yang berminat harus mencari aneka ragam corak-corak penafsiran dari berbagai aliran baik yang disusun oleh kalangan mufassirin atau hasil penelitian-penelitian para orientalis yang lebih berminat.
BAB II
PENGANTAR METODE/MODEL TAFSIR
A. Pengantar
Metode berasal dari bahasa Yunani meta dan hodos, meta artinya mengikuti, melalui, atau sesudah dan hodos artinya cara, arah. Atau lebih tegas berasal dari methodos artinya jalan atau cara. Apabila dikaitkan dengan upaya ilmiah, maka metode diartikan dengan cara-kerja yang dipergunakan dalam memahami obyek yang menjadi sasaran penelitian.
Sedangkan Tafsir menurut Az-Zarqany adalah kunci pembuka gudang penyimpanan kekayaan al-Qur’an yang diturunkan untuk kemaslahatan umat manusia, menyelamatkan kehidupan manusia dan membangun peradaban alam.
Tafsir, sebagai usaha memahami dan menerangkan maksud dan kandungan al Quran, telah mengalami perkembangan yang cukup bervariasi. Sebagai hasil karya manusia, terjadinya keanekaragaman dalam corak penafsiran adalah hal yang tak dapat dihindarkan. Berbagai faktor dapat menimbulkan keragaman itu : perbedan kecenderungan, interest, dan motivasi mufassir; perbedaan misi yang diemban; perbedaan kedalaman dan ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan masa dan lingkungan yang mengitari; perbedaan situasi dan kondisi yang dihadapi dan sebagainya. Semua ini menimbulkan berbagai corak penarsiran yang kemudian berkembang menjadi aliran tafsir yang bermacam-macam, lengkap dengan metodenya sendiri-sendiri.
Jadi, Metode Tafsir adalah jalan/cara untuk memahami kandungan yang ada pada kitab suci al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad s.a.w., serta menjelaskan artinya dan sekaligus menjelaskan menunjukan ketetapan atau hukum-hukum yang ada didalamnya.
Metode yang lain yang dikenal dengan rasional methode yang terkenal dalam dunia Islam dengan At Tafsir bil Ma’qul atau At Tafsir al Aqly, metode ini semula beranjak dari pendekatan makna Al-Qur’an dari segi rahasia. Karena bahasa itu sebagai gambaran fikiran yang kemudian berkembang dengan pesatnya ketika ayat-ayat Al-Qur’an dijadikan justifikasi untuk memperkuat hasil pemikirannya dalam aneka ragam cabang budaya, Filsafat, dan ilmu pengetahhuan.


B. Studi Islam
Studi Islam dipahami sebagai kajian sumber atas Islam. Istilah itu merupakan gabungan dua kata yang keseluruhannya memiliki makna yang selalu dinamis dan interpretable. Makna itu dikatakan dinamis karena kedua kata tersebut memunculkan interpretasi-interpretasi yang berbeda sesuai dengan kemauan penafsirnya.
Dalam sejarah keilmuan tafsir tentang studi Islam, ternyata tafsir juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan keilmuan dan kemasyarakatan. Ilmu Lughat (nahwu, sharaf, dan lain-lain); ilmu kalam,, ilmu fiqih, ilmu sejarah, bahkan madzab-madzab fiqihpun ikut mempengaruhi warna penafsiran Al-Qur’an. Tidak kurang hangatnya dengan tafsir yang tumbuh dikalangan Ahlussunnah, Mu’tazilah maupun Syi’ah yang disiapkan sesuai dengan doktrin teologinya masing-masing.


BAB III
PEMAHAMAN METODE/MODEL TAFSIR
A. Metode/Model Tafsir Tahlîlî
Metode tafsir Tahlili atau analisis adalh suatu metode tafir untuk memahami nilai-nilai sumber kajian Islam. Metode ini harus dikembangkan lebih lanjut dari . istilah analisis itu sendiri mengandung arti “menguraikan”. Metode tafsir analisis ini berguna juga untuk mengetaui letak peta pemikiran para mufassir, karena metode tafsir ini berusaha menguraikan sampai menemukan hakekat yang sedalam-dalamnya. Tujuan dari metode tafsir analisis atau tahlili ini untuk memperoleh sebanyak-banyaknya arti/makna yang terkandung di dalam istilah dan pertanyaan kajian sumber Islam.
Maksud tafsir tahlîlî adalah metode kajian al-Qur’an dengan menganalisis secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan urutan bacaan yang terdapat dalam urutan mushaf ‘Uthmânî. Ternyata menurut sejumlah ilmuwan, metode yang sebagian ilmuan menyebutnya dengan metode kajian atomistik atau metode kajian yang bersifat parsial ini memiliki beberapa kelemahan. Quraish Shihab berpendapat, satu akibat dari pemahaman al-Qur’an berdasar ayat demi ayat secara terpisah adalah al-Qur’an terlihat seolah sebagai petunjuk yang terpisah-pisah. Metode ini juga disebut tafsir analisis.
Metode tafsir Tahlili didefinisikan sebagai penjelasan atas ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segenap aspek yang terkait dengannya. Hal ini dilakukan seorang mufassir dengan memberikan penjelasan terhadap al-Quran menurut tata urutannya, seperti yang termaktub di dalam mushaf, seayat demi seayat, dan surat demi surat secara berurutan, dengan mengetengahkan makna kalimat-kalimatnya satu persatu, begitu juga dengan mengungkapkan maksud ayat secara keseluruhan, dan apa yang bisa diungkapkan melalui susunan kalimatnya, memberikan kaitan dengan ayat-ayat dan surat sebelum dan sesudahnya, juga menjelaskan inti yang menjadi pengikat di antara maksud-maksudnya, mencoba menghubungkan dengan tujuan yang dimaksudkan, juga argumentasi yang mendukungnya, asbab nuzul, serta penjelasan yang telah dinukilkan oleh Rasulullah, para sahabat, juga tabiin, berikut penjelasan masalah kebahasaan yang berkaitan dengan teksnya. Sebagai metode tafsir yang palng banyak dipakai oleh mufassir al-Qur’an sejak masa klasik hingga saat ini, metode penafsiran ini memuat banyak corak penafsiran yang menjadi kecenderungan khusus masing-masing penafsir. Uraian tentang hal ini, berikut contoh-contoh hasil penafsiran pada masing-masing corak penafsiran, akan diuraikan dalam tulisan tersendiri.
Contoh satu Tafsir tahlîlî oleh al-Farmawi, yakni:
 Al-Tafsir al-Adabî al-ijtimâ’î → al-adabi menekankan pada analisis redaksi (teks), sementara al-ijtima’I pada aspek sosial. Maka tafsir ini menekankan pada analisis redaksi ayat dan dihubungkan dengan hokum yang berlaku dalam masyarakat. Di antara tafsir di kelompok ini adalah Tafsir al-Manar oleh Rasyid Ridâ (w. 1345 H), Tafsir al-Qur’an oleh Syeikh Akhmad Mustafa al-Maraghi (w. 1945 H) yang terkenal dengan Tafsir al-Maraghi, Tafsir al-Qur’an al-Karîm oleh Mahmud Syaltut.
B. Metode/Model Tafsir Muqaran
Muqaran secara bahasa al-muqaran berarti perbandingan, sedangkan secara istilah, tafsir muqaran adalah “ membandingkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi, yang berbicara tentang masalah atau kasus yang berbeda, dan yang memiliki redaksi yang berbeda bagi masalah atau kasus yang sama atau diduga sama ”. Dalam hal ini bukan bertujuan untuk benar dan salah, tetapi menentukan fariasi penafsiran terhadap ayat al-Quran.
Sesuai dengan namanya, metode tafsir ini menekankan kajiannya pada aspek perbandingan (komparasi) tafsir al-Quran. Penafsiran yang menggunakan yang menggunakan metode ini pertama sekali menghimpun sejumlah ayat-ayat al-Quran, kemudian mengkajinya dan meneliti penafsiran sejumlah penafsir mengenai ayat-ayat tersebut dalam karya mereka.
 Motifasi keberadaannya
Seorang mufassir dapat menggali hikmah yang terkandung di balik variasi redaksi ayat, atau dengan kata lain yang lebih tepat, menguras kandungan pengertian ayat-yang barangkali terlewatkan metode lain-sehingga manusia semakin sadar bahwa komposisi ayat itu tidak ada yang dibuat secara sembarang, apalagi untuk mengatakan bertentangan. Pada sisi lain, dapat juga mendemonstrasikan kecanggihan al-Quran dari segi redaksional.
Fenomena ini mendorong para mufassir untuk mengadakan penelitian dan penghayatan terhadap ayat-ayat yang secara redaksional memiliki kesamaan. Dengan begitu, akan tampak jelas kontekstualisasi kandungan ayat tersebut karena hal ini akan efektif menepis anggapan bahwa Tuhan sudah “kehabisan” kosakata dalam melengkapi ajaran qurani atau mungkin beberapa ayat dianggap cenderung membosankan karena terkesan diulang-ulang. Tak satupun ayat yang tersia-siakan karena satu persatunya mengandung hikmah yang perlu dibedah dan ditelisik spesifikasinya. Oleh karena itu, tidak terlalu berlebihan kiranya dinyatakan bahwa mendekati al-Quran dari dimensi model tafsir seperti ini akan menambah keteguhan imam seseorang serta akan menguatkan kreativitas bertafakkur.
 Contoh Penafsiran Metode Muqaran
→ Ayat- ayat kasus yang sama dengan redaksi yang berbeda.
Seperti misalnya firman Allah dalam surat al-An’am ayat 151 dengan surat al-Isra ayat 31.


Surat al-An’am ayat 151:
                             •         •            
“Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).”




Surat al-Isra ayat 31
                      
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
Dua ayat tersebut membahas kasus yang sama,yakni larangan membunuh anak-anak karena alas an kemiskinan, tetapi redaksinya terlihat berbeda. Perbedaan itu bisa di lihat dari segi objeknya (mukhatab). mukhatab pada ayat pertama adalah orang miskin, sehingga redaksi yang di gunakan adalah “ janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena kamu miskin”. yang berarti alas an kemiskinan.
Sementara itu, mukhatab pada ayat kedua adalah orang kaya sehingga redaksi yang di gunakan adalah “janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena kamu takut menjadi miskin”. Yang berarti karena takut menjadi miskin. Selanjutnya, pada ayat pertama dhamir mukhatab di dahulukan dengan maksud untuk menghilangkan kekhawatiran si miskin bahwa ia tidak mampu memberikan nafkan kepada anaknya, sebab Allah akan memberikan rizki kepadanya. Jadi, kedua ayat itu menumbuhkan optimisme kepada si kaya maupun si miskin.
→ Ayat-ayat beredaksi mirip yang membahas kasus yang berbeda
Seperti surat al-Anfal ayat 10 dengan surat Ali Imran 126




Surat al-Anfal ayat 10:
     •     •          
“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Surat Ali Imran ayat 126:

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Dua ayat tersebut redaksinya terlihat mirip, bahkan sama-sama menjelaskan pertolongan Allah kepada kaum muslimin dalam bertempur melawan musuh. tetepi terdapat variasi yang dapat dilihat yaitu:
  • Surat al-Anfal berbicara menenai perang Badar, sedangkan surat Ali Imran berbicarara mengenai perang Uhud.
  • Kelebihan dan Kekurangan
* Kelebihan
a) Memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas kepada para pembaca bila dibandingkan dengan metode-metode yang lain. Didalam penafsiran itu, terlihat bahwa satu ayat al-Quran dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian mufasirnya. Dengan demikian, terasa bahwa al-Quran itu tidak sempit, melainkan amat luas dan dapat menampung berbagai ide dan pendapat. Semua pendapat atau penafsiran yang diberikan itu dapat diterima selama proses penafsirannya melalui metode dan kaidah yang benar.
b) Membuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang kadang-kadang jauh berbeda dari pendapat kita dan tidak mustahil ada kontroversi. Dengan demikian, hal itu dapat mengurangi fanatisme yang berlebihan kepada suatu madzhab atau aliran tertentu, sehingga umat, terutama mereka yang membaca tafsir muqaranah, terhindar dari sikap ekstrimistis yang dapat merusak persatuan dan kesatuan umat. Hal itu dimungkinkan karena penafsiran tersebut memberikan berbagai pilihan.
c) Tafsir dengan metode komparatif ini amat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui berbagai pendapat tentang suatu ayat. Oleh karena itu, penafsiran seamcam ini cocok untuk mereka yang ingin memperluas dan mendalami penafsiran al-Quran bukan bagi para pemula.
d) Dengan menggunakan metode komparatif, mufasir didorong untuk mengkaji berbagai ayat dan hadis-hadis serta pendapat-pendapat para mufasir yang lain. Dengan pola serupa ini akan membuatnya lebih berhati-hati dalam proses penafsiran suatu ayat.






* Kekurangan
a) Penafsiran yang memakai metode komparatif tidak dapat diberikan kepada para pemula, seperti mereka yang sedang belajar pada tingkat sekolah menengah ke bawah. Hal itu disebabkan pembahasan yang dikemukakan didalamnya terlalu luas dan kadang-kadang bisa ekstrim.
b) metode komparatif kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan social yang tumbuh di tengah masyarakat. Hal itu disebabkan metode ini lebih mengutamakan perbandingan dari pada pemecahan masalah. Dengan demikian, jika menginginkan pemecahan masalah, yang tepat adalah menggunakan metode tematik,.
c) metode komparatif terkesan lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh para ulama daripada mengemukakan penafsiran-penafsiran baru. Sebenarnya kesan serupa itu tidak perlu timbul apabila mufasirnya kreatif. Artinya, dia tidak hanya sekedar mengemukakan penafsiran-penafsiran orang lain, tetapi harus mengaitkannya dengan kondisi yang dihadapinya. Degnan demikian dia akan menghasilkan sintesis-sintesis baru yang belum ada sebelumnya.
Para ulama menjelaskan bahwa diantara mereka ada yang corak penafsirannya ditentukan oleh disiplin ilmu yang dikuasainya. Ada di antara mereka yang menitikberatkan pada bidang nahwu, yakni segi-segi i’rab, seperti imam Zarksyi. Ada yang corak penafsirannya di tentukan oleh kecenderungan kepada bidang balaghah, seperti Abd al-Qahhar al-Jurjany dalam kitab tafsirnya Ijaz al-Quran dan Abu Ubaidah Ma’mar ibn al-mutsanna dalam kitab tafsirnya al-Majaz, dimana beliau member perhatian pada penjelasan ilmu ma’any, bayan, badi’, haqiqat, dan majaz. Salah satu karya tafsir yang lahir di zaman modern ini yang menggunakan metode perbandingan adalah Quran and its Interpreters karya Prof. Mahmud Ayub.
Mufassir dengan metode muqaran dituntut harus mampu menganalisis pendapat-pendapat para ulama tafsir yang ia kemukakan lalu ia harus mengambil sikap menerima penafsiran yang dinilai benar dan menolak penafsiran yang tidak dapat diterima oleh rasionya, serta menjelaskan pada pembaca alasan dari sikap yang diambilnya.
C. Metode/Model Tafsir Ijmâlî
Metode ini berusaha menafsirkan Al-Qur’an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili, namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh tiap lapisan dan tingkatan ilmu kaum muslimin.
Dimaksudkan sebagai metode tafsir di mana mufassirnya menerangkan makna ayat yang ditafsirkannya secara ringkas dan global saja, biasanya dengan menyebut penjelasan tentang i’rab atau padanan kata (muradif) dari kata-kata dalam ayat al-Qur’an. Contoh karya yang menerapkan metode penafsiran semacam ini adalah Tafsir Jalalayn karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jamaluddin al-Suyuti; dan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Muhammad Farid Wajdi.
D. Metode/Model Tafsir Maudû’î
Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai tujuan yang satu, yang bersama-sama membahas topik atau judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.
Menurut catatan Quraish, tafsir tematik berdasarkan surah digagas pertama kali oleh seorang guru besar jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Syaikh Mahmud Syaltut, pada Januari 1960. Karya ini termuat dalam kitabnya, Tafsir al-Qur’an al-Karim. Sedangkan tafsir maudu‘i berdasarkan subjek digagas pertama kali oleh Prof. Dr. Ahmad Sayyid al-Kumiy, seorang guru besar di institusi yang sama dengan Syaikh Mahmud Syaltut, jurusan Tafsir, fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, dan menjadi ketua jurusan Tafsir sampai tahun 1981. Model tafsir ini digagas pada tahun seribu sembilan ratus enam puluhan. Buah dari tafsir model ini menurut Quraish Shihab di antaranya adalah karya-karya Abbas Mahmud al-Aqqad, al-Insân fî al-Qur’ân, al-Mar’ah fî al-Qur’ân, dan karya Abul A’la al-Maududi, al-Ribâ fî al-Qur’ân. Kemudian tafsir model ini dikembangkan dan disempurnakan lebih sistematis oleh Prof. Dr. Abdul Hay al-Farmawi, pada tahun 1977, dalam kitabnya al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudu‘i: Dirasah Manhajiyah Maudu‘iyah.
Namun kalau merujuk pada catatan lain, kelahiran tafsir tematik jauh lebih awal dari apa yang dicatat Quraish Shihab, baik tematik berdasar surah maupun berdasarkan subjek. Kaitannya dengan tafsir tematik berdasar surah al-Qur’an, Zarkashi (745-794/1344-1392), dengan karyanya al-Burhân, misalnya adalah salah satu contoh yang paling awal yang menekankan pentingnya tafsir yang menekankan bahasan surah demi surah. Demikian juga Suyûtî (w. 911/1505) dalam karyanya al-Itqân.
Sementa tematik berdasar subyek, diantaranya adalah karya Ibn Qayyim al-Jauzîyah (1292-1350H.), ulama besar dari mazhab H{anbalî, yang berjudul al-Bayân fî Aqsâm al-Qur`ân; Majâz al-Qur`ân oleh Abû ‘Ubaid; Mufradât al-Qur`ân oleh al-Râghib al-Isfahânî; Asbâb al-Nuzûl oleh Abû al-Hasan al-Wahîdî al-Naisâbûrî (w. 468/1076), dan sejumlah karya dalam Nâsikh wa al- Mansûkh, yakni; (1) Naskh al-Qur`ân oleh Abû Bakr Muh}ammad al-Zuhrî (w. 124/742), (2) Kitâb al-Nâsikh wa al-Mansûkh fî al-Qur`ân al-Karîm oleh al-Nahhâs (w. 338/949), (3) al-Nâsikh wa al-Mansûkh oleh Ibn Salamâ (w. 410/1020), (4) al-Nâsikh wa al-Mansûkh oleh Ibn al-‘Atâ`iqi (w.s. 790/1308), (5) Kitâb al-Mujâz fî al-Nâsikh wa al-Mansûkh oleh Ibn Khuzayma al-Fârisî.
Sebagai tambahan, tafsir Ahkâm al-Qur`ân karya al-Jassâs (w. 370 H.), adalah contoh lain dari tafsir semi tematik yang diaplikasikan ketika menafsirkan seluruh al-Qur’an.
Karena itu, meskipun tidak fenomena umum, tafsir tematik sudah diperkenalkan sejak sejarah awal tafsir. Lebih jauh, perumusan konsep ini secara metodologis dan sistematis berkembang di masa kontemporer. Demikian juga jumlahnya semakin bertambah di awal abad ke 20, baik tematik berdasarkan surah al-Qur’an maupun tematik berdasar subyek/topik.
  • Langkah-Langkah Menerapkan Metode Tafsir Tematik
Menurut Abdul Hay Al-Farmawiy dalam bukunya Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-mawdhu’i
secara rinci menyeabutkan ada tujuh langkah yang ditempauh dalam menerapkan metode tematik ini, yaitu ;
1)  Menetapkan masalah yang akan dibahas ( topik )
2)  Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah terseabut
3) Menyusun runtutan ayat sesuai masa turunnya.disertai pengetahuan tentang azbabun nuzulnya;
4) Memahami kolerasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing;
5) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna;
6) Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok pembahasan;
7) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘am ( umum) dan yang khash (khusus), muthlak dan muqayyad, atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan.
Sementara menurut M.Quraish Shihab ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan didalam menerapkan metode tematik ini.Antara lain;
a. Penetapan masalah yang dibahas.
Walaupun metode ini dapat menampaung semua masalah yang diajukan namun akan lebih baik apabila permasalahan yang dibahas itu diproritaskan pada persoalan yang langsung menyentuh dan dirasakan oleh masyarakat, misalnya petunjuk Al-Qur’an tentang kemiskinan, keterbelakangan, penyakit dan lain-lainnya. Dengan demikian, metode penafsiran semacam ini langsung member jawaban terhadap problem masyarakat tertentu di tempat tertentu pula.
b. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya.
Bagi mereka yang bermaksud menguraikan suatu kisah atau kejadian maka runtutan yang dibutuhkan adalah runtutan kronologis peristiwa.
c. Kesempurnaan metode tematik dapat dicapai apabila sejak dini sang mufassir berusaha memahami arti kosakata ayat dengan merujuk kepada penggunaan Al-Qur’an sendiri.Hal ini dapat dinilai sebagai pengembangan dari tafsir bi al-ma’tsur yang pada hakikatnya merupakan benih awal dari metode tematik
Dari uraian di atas, baik yang dikemukakan Abdul Hay Al-farmawiy maupun M.Quraish Shihab sama-sama sependapat bahwa langkah awal yang ditempuh dalam mempergunakan metode tafsir tematik adalah menetapkan topik atau masalah yang akan dibahas kemudian menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama dengan topik dan dilengkapi dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan dan yang perlu dicatat topik yang dibahas diusahakan pada persoalan yang langsung menyentuh kepentingan msyarakat. agar Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup dapat memberi jawaban terhadap problem masyarakat itu.
  • Keistimewaan Tafsir Tematik Menuntaskan Persoalan Masyarakat Kontemporer
Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa tafsir tematik mempunyai keistimewaan di dalam menuntaskan persoalan-persoalan masyarakat dibandingkan metode lainnya, antara lain,(a) menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi adalah suatu cara terbaik di dalam menafsirkan Al-Qur’an, (b) kesimpulan yang dihasilkan oleh metode tematik mudah dipahami. Hal ini disebabkan ia membawa pembaca kepada petunjuk Al-Qur’an tanpa mengemukakan berbagai pembahasan terperinci dalam satu disiplin ilmu.Dengan demikian ia dapat membawa kita kepada pendapat Al-Qur’an tentang berbagai problem hidup disertai dengan jawaban-jawabannya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup.(c) metode ini memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang bertentangan dalam Al-Qura’an, sekaligus membuktikan bahwa Al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.


BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data yang dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya, dengan menggunakan kerangka dan klasifikasi pendekatan yang telah ditentukan, secara umum, peneliti menyimpulkan bahwa dari uraian di atas dapat disimpukan bahawa metode penafsiran Al-Qur’an adalah suatu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksud Allah swt dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Para ulama ahli tafsir memakai beberapa metode atau teknik dalam penafsirannya sehingga terdapat berbagai macam teknik penafsiran dengan menitik beratkan kepada suatu persoalan tertentu yang diambil dari Al-Qur’an. Di antara tekniknya adalah penafsiran secara tahlili, ijmali, muqarin dan maudhu’i. Para ulama ahli tafsir dalam melakukan penafsiran hanya memberika pengertian dan menerangkan maksud yang dikehendaki Allah swt melalui kitab suci Al-Qur’an.
B. Saran-saran
Dari makalah di atas Penafsiran adalah salah satu jalan untuk mengetahui maksud dan tujuan Al-Qur’an, sedangkan kebenaran yang hakiki dan mutlak tentang maksud Al-Qur’an hanya Allah yang paling tahu.


DAFTAR PUSTAKA


  • Dr. H. Zuhri, M.Ag, Studi Islam Dalam Tafsir Sosial, 2005. 
  • Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, 2009. 
  • Masyhur Amin, Pengantar Kearah Metode Penelitian dan pengembangan Ilmu, Pengetahuan Agama Islam, 2002. 
  • Tholhah Hasan, Islam dalam Perspektif Sosio Natural, 2008. 
  • M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu`i atas berbagai Persoalan Ummat, 2003. 
  • M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, 2005. 
  • M. al-Fatih Suryadilaga, dkk, Metodologi Ilmu Tafsir, 2003. 
  • Nashruddin Baidan, Perkembangan tafsir al-Qur'an di Indonesia, 2003. 
  • Badr al-Dîn Muhammad al-Zarkashî, Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur`ân, 2001
  • Jalâl al-Din al-Suyûtî, Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur`ân, 2001
Informasi yang lebih lengkap mengenai mtode tafsir, silahkan klik disini

Related Post



0 komentar:

Popular Posts

Berita Hari Ini