Translate

Cara Melanjutkan Baca

cara downlaod File :

1. klik file yang akan di download
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
3. klik unduh
4. lalu tunggu 20 detik mengunduh file tersebut

atau cuma ingin melanjutkan BACA Blog :

1. klik file yang akan di buka
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
Ada kesalahan di dalam gadget ini
http://seputarduniapengetahuan.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengunjung Saya


free statistics

Pengikut

Minggu, 23 September 2012
A. PENDAHULUAN 
Thailand merupakan sebuah negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha Theravada. Penduduk yang memeluk agama tersebut mencapai 90% dari keseluruhan jumlah penduduk di Thailand. Selebihnya, sekitar 6% penduduk Thailand beragama muslim dan sisanya beragama yang lain. Thailand termasuk negara yang menghargai keragaman agama yang terdapat dalam negara tersebut. Buktinya, di negara ini cukup banyak ditemukan masjid-masjid, dan berbagai ceramah keagamaan bebas untuk dilakukan. Muslim menjadi agama minoritas di negara tersebut. Dengan demikian, sorak kehidupan warga muslim di negara tersebut pun menjadi berbeda. Di negara tersebut, bertebaran banyak sekali tempat-tempat pemujaan yang menjadi mayoritas kepercayaan di negara tersebut. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan keyakinan agama Islam, yang sangat menentang kepercayaan terhadap benda-benda maupun pemujaan-pemujaan suatu benda. Budaya Thailand memang sangat berbeda dengan budaya Indonesia. Dari segi agamanya saja, Thailand lebih banyak memiliki warga negara dengan agama Buddha. Masyarakat Thailand juga masih kental dengan kepercayaannya kepada leluhur. Sehingga, diberbagai penjuru negara, dapat dengan mudah dijumpai patung-patung persembahan. Di sana, dapat dengan mudah kita jumpai, setiap pagi sebelum beraktivitas yang lain, masyarakat Thailand menyempatkan diri untuk memberikan persembahan berupa bunga-bungaan ke patung-patung yang berada di lingkungan mereka. Bahkan, tidak jarang dapat dengan mudah kita temui, untaian kalung bunga melati di setiap sudut kota, di depan rumah, bahkan di dalam kendaraan. Karena pengaruh budaya Buddhism yang cukup kental, di mana juga Islam merupakan agama minoritas dalam negara tersebut, hal ini kemudian memunculkan keinginan orang-orang minoritas untuk melanjutkan studi di suatu negara yang menjunjung nilai keislaman. Tidak bisa dipungkiri juga, arah pemikiran seseorang untuk mengambil suatu keputusan, bisa dilator belakangi oleh kebudayaan dari tempat tinggal seseorang. Thailand, dengan tingkat kepercayaan leluhur yang sangat tinggi, hal ini kemudian membuat masyarakat Thailand sangat menghormati sistem keturunan yang berada dalam keluarganya. Salah satu permasalahan dalam penetian ini adalah pengambilan keputusan seorang mahasiswi Thailand yang beragama muslim untuk melanjutkan studi nya di Indonesia. Pendidikan merupakan komponen dasar yang kuat untuk memperbaiki sistem sumber daya manusia. Dan, tidak dipungkiri, Indonesia, khususnya di ASEAN sendiri, merupakan salah satu negara tujuan untuk menuntut ilmu. Walaupun begitu, menurut Global Competitiveness Index (2007-2008 dan 2008-2009), Thailand masih mempunyai peringkat pendidikan yang jauh lebih baik dari Indonesia, di mana Thailand menempati peringkat ke 28 dan Indonesia sendiri berada di peringkat 54. Hal inilah yang kemudian menggelitik untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswi Thailand yang mengambil keputusan untuk melanjutkan studinya di Indonesia. 

B. PEMBAHASAN 
Subjek dalam penelitian ini adalah seorang perempuan beragama Islam dan merupakan seorang yang asli keturunan dari Thailand. Subjek berumur 22 tahun dan meneruskan jenjang pendidikan di UIN Sunan Kalijaga fakultas dakwah. Subjek merupakan anak ke enam dari delapan bersaudara. Menurut penuturannya, keluarga subjek berdarah Islam asli. Kedua orangtuanya juga beragama Islam. Sedari kecil, subjek sudah dibesarkan dalam lingkungan Islami. Mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, subjek disekolahkan dalam sekolah yang bebasis pada keilmuan Islam. Pada dasarnya, tidak ada masalah bagi subjek untuk meneruskan jenjang pendidikannya kemana saja. Akan tetapi, dikarenakan seluruh kakak-kakak dari subjek juga memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, maka, mau tak mau subjek juga meneruskan kebiasaan dalam keluarganya ini. Tradisi ini secara tidak langsung didasari oleh kebudayaan Thailand sendiri yang sangat menghormati leluhur. Hal ini juga yang secara tersirat dikatakan subjek yang mengatakan bahwa berkuliah di luar negeri merupakan tradisi dalam keluarganya. Sehingga, subjek sendiri tidak bisa menolak tradisi dalam keluarganya tersebut. Terlebih lagi, perbedaan budaya antara agama yang dianut subjek dengan agama mayoritas di negara tersebut, sehingga mau tidak mau subjek mencari tambahan pengetahuan mengenai agamanya dengan bersekolah di luar negeri (baca: Indonesia) yang memiliki latar belakang budaya Islam yang cukup tinggi. Penelitian ini mencoba manghubungkan apa yang terjadi dalam kebudayaan terhadap kognisi seseorang. Kognisi adalah satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan. Termasuk di dalamnya ialah mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, berpikir, mempertimbangkan, menduga dan menilai. Secara tradisional kognisi ini dipertentangkan dengan konasi atau kemauan dan dengan afeksi atau perasaan (Chaplin, 2008). Sedangkan menurut Festinger dalam buku Teori-Teori Psikologi Sosial menyatakan bahwa kognisis merupakan elemen-elemen kognitif, yaitu hal-hal yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya sendiri, tentang tingkah lakunya dan tentang keadaan di sekitarnya. Salah satu hal yang termasuk dalam aspek kognitif adalah pengambilan keputusan (decision making). Pengambilan keputusan merupakan suatu cara bagi seseorang untuk menentukan apa yang akan dipilihnya. Manusia membuat banyak keputusan berdasarkan bias-bias dan heuristic di dalam pemikiran mereka. Heuristika adalah strategi-strategi informal yang, intuitif dan spekulatif yang terkadang mengarah kepada solusi yang efektif namun terkadang tidak (Stenberg, 2008). Pertimbangan lain di dalam teori keputusan adalah pengaruh dari efek-efek penyusunan (framing effects), yaitu cara opsi-opsi yang dipresentasikan kemudian mempengaruhi cara kita untuk menyeleksi sebuah opsi (Stneberg 2008). Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi dengan subjek. Subjek dibesarkan dalam tradisi Thailand yang cukup kental, di mana sudah sejak kecil subjek lahir dan besar di sana. Tradisi Thailand yang sangat menghormati dan menjunjung tinggi nilai kebudayaan, sangat menghormati tradisi yang sudah dianut dalam suatu keluarga. Sehingga tidak mudah bagi subjek untuk menentang tradisi dalam keluarganya yang sudah sejak dulu mengharuskan anak-anak mereka untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tradisi tersebut lah yang kemudian juga mempengaruhi jalan pengambilan keputusan subjek. Subjek mengambil negara Indonesia sebagai negara tujuannya dalam meneruskan pendidikan, dilatar belakangi kehidupan keislaman subjek yang sudah ditanamkan sejak kecil. Budaya dan tradisi-tradisi subjek inilah yang kemudian menjadi bagian dari framing effects yang mempengaruhi subjek dalam mengambil keputusan untuk berkuliah di Indonesia. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak terucapkan. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, budaya dalam keluarga subjek mempunyai keluarga besar, yaitu delapan bersaudara. Keluarganya mempunyai tradisi untuk melanjutkan studi perguruan tinggi ke luar negeri. Hal inilah yang melatar belakangi subjek untuk mengambil keputusan untuk berkuliah di Indonesia. Tradisi ini dikuatkan dengan budaya Thailand sendiri yang sangat menghargai segala budaya dan tradisi yang berjalan dalam masyarakat, yaitu sangat menghormati para leluhur. 

C. KESIMPULAN 
Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan dan tradisi Thailand yang sangat menjunjung tradisi leluhur, sedikit banyak mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan oleh masyarakatnya. Sehingga, sebisa mungkin masyarakat Thailand selalu berada dalam tradisi yang sudah diturunkan dalam sebuah keluarga. 

D. SARAN 
Dari penelitian yang sudah dilakukan, maka peneliti memberikan saran, bahwa dalam penelitian ini, sangat kurang referensi mengenai kebudayaan Thailand itu sendiri. Diharapkan, untuk penelitian selanjutnya, referensi semakin diperbanyak. 

DAFTAR PUSTAKA 
Stenberg, Robert, J. 2008. Psikologi Kognitif Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 
Alwisol. 2009. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press 
Baron, Robert, A., Byrne, Donn. 2005. Psikologi Sosial Jilid 2. Jakarta: Erlangga 
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers 
Sawaji, Jamaludin. Pengambilan Keputusan Mahasiswa dalam Memilih Perguruan Tinggi Swasta di Sulawesi Selatan. (Jurnal)

Related Post



0 komentar:

Popular Posts

Berita Hari Ini