Translate

Cara Melanjutkan Baca

cara downlaod File :

1. klik file yang akan di download
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
3. klik unduh
4. lalu tunggu 20 detik mengunduh file tersebut

atau cuma ingin melanjutkan BACA Blog :

1. klik file yang akan di buka
2. tunggu sampai muncul "SKIP AD" (pojok kanan atas) dan klik "skip ad"
Ada kesalahan di dalam gadget ini
http://seputarduniapengetahuan.blogspot.com/. Diberdayakan oleh Blogger.

Pengunjung Saya


free statistics

Pengikut

Minggu, 23 September 2012
A. PENDAHULUAN 
Perkembangan daerah saat ini sangat pesat, apalagi dengan bergulirnya otonomi daerah yang dihembuskan pemerintah pusat. Dengan adanya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah dan juga UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang pembentukan Propinsi Kepulauan Riau yang disahkan oleh DPR RI pada tanggal 24 September 2002 dan ditandatangani oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 18 November 2002. Kepulauan Riau ini meliputi Kabupaten Kepulauan Riau, Natuna, Karimun, Kota Batam, Kota Tanjungpinang dan yang terakhir ini telah terbentuknya pemekaran wilayah baru dari Kabupaten Kepulauan Riau yaitu Kabupaten Lingga pada tahun 2004. Organisasi kedaerahan adalah termasuk organisasi yang termasuk organisasi non profit dimana dibutuhkan komitmen organisasi dikuatkan sebagai bentuk sikap profesionalitas keanggotaan. Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta adalah salah satu organisasi kedaerahan yang diteliti untuk mengetahui komitmen kerja para anggota di dalam organisasi ini. 

B. DASAR TEORI 
Meyer dan Allen (1991) merumuskan suatu definisi mengenai komitmen dalam berorganisasi sebagai suatu konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi. Berdasarkan definisi tersebut anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi dibandingkan anggota yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasi. Komitmen organisasi yang dikemukakan oleh Allen dan Meyer (1990) memiliki tiga komponen organisasi yaitu: komitmen afektif (affective commitment), komitmen kontinuans (continuance commitment), dan komitmen normative (normative commitment). Hal yang umum dari ketiga komponen komitmen ini adalah dilihatnya komitmen sebagai kondisi psikologis yang: 1) menggambarkan hubungan individu dengan organisasi, dan 2) mempunyai implikasi dalam keputusan untuk meneruskan atau tidak keanggotaannya dalam organisasi. Adapun definisi dan penjelasan dari setiap komponen komitmen organisasi adalah sebagai berikut. 1) Komitmen afektif mengarah pada the employee's emotional attachment to, identification with, and involvement in the organization. Ini berarti, komitmen afektif berkaitan dengan keterikatan emosional karyawan, identifikasi karyawan pada, dan keterlibatan karyawan pada organisasi. Dengan demikian, karyawan yang memiliki komitmen afektif yang kuat akan terus bekerja dalam organisasi karena mereka memang ingin (want to) melakukan hal tersebut. 2) Komitmen kontinuans berkaitan dengan an awareness of the costs associated with leaving the organization. Hal ini menunjukkan adanya pertimbangan untung rugi dalam diri karyawan berkaitan dengan keinginan untuk tetap bekerja atau justru meninggalkan organisasi. Komitmen kontinuans adalah kesadaran akan ketidakmungkinan memilih identitas sosial lain ataupun alternatif tingkah laku lain karena adanya ancaman akan kerugian besar. Karyawan yang terutama bekerja berdasarkan komitmen kontinuans ini bertahan dalam organisasi karena mereka butuh (need to) melakukan hal tersebut karena tidak adanya pilihan lain. 3) Komitmen normatif merefleksikan a feeling of obligation to continue employment. Dengan kata lain, komitmen normatif berkaitan dengan perasaan wajib untuk tetap bekerja dalam organisasi. Ini berarti, karyawan yang memiliki komitmen normative yang tinggi merasa bahwa mereka wajib (ought to) bertahan dalam organisasi. Wiener (dalam Allen & Meyer, 1990) mendefinisikan komponen komitmen ini sebagai tekanan normatif yang terinternalisasi secara keseluruhan untuk bertingkah laku tertentu sehingga memenuhi tujuan dan minat organisasi. Oleh karena itu, tingkah laku karyawan didasari pada adanya keyakinan tentang “apa yang benar” serta berkaitan dengan masalah moral. Allen dan Meyer (1990) serta Meyer dan Allen (1997) lebih memilih untuk menggunakan istilah komponen komitmen organisasi daripada tipe komitmen organisasi karena hubungan karyawan dengan organisasinya dapat bervariasi dalam ketiga komponen tersebut. Selain itu, setiap komponen komitmen berkembang sebagai hasil dari pengalaman yang berbeda serta memiliki implikasi yang berbeda pula. Misalnya, seorang karyawan secara bersamaan dapat merasa terikat dengan organisasi dan juga merasa wajib untuk bertahan dalam organisasi. Sementara itu, karyawan lain dapat menikmati bekerja dalam organisasi sekaligus menyadari bahwa ia lebih baik bertahan dalam organisasi karena situasi ekonomi yang tidak menentu. Namun, 3 karyawan lain merasa ingin, butuh, dan juga wajib untuk terus bekerja dalam organisasi. Dengan demikian, pengukuran komitmen organisasi juga seharusnya merefleksikan ketiga komponen komitmen tersebut, yaitu komitmen afektif, komitmen kontinuans, dan komitmen normatif. Perkembangan organisasi daerah saat ini semakin menunjukkan eksistensinya. Hal ini ditunjukkan dengan keikutsertaan organisasi daerah pada kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pemerintah pusat. Selain itu, sistem kerja organisasi daerah juga sudah semakin terstruktur. Seperti sistem yang dijalankan pada organisasi daerah Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta, organisasi ini sudah memiliki susunan kepengurusan yang tersistematika dengan baik. Misalnya, dengan adanya ketua dan koordinator masing-masing bagian yang diperlukan dalam suatu organisasi. Berdasarkan dari teori yang dikemukakan oleh Meyer, dapat terlihat bahwa komitmen yang terjadi dalam organisasi daerah Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta didasari oleh adanya persamaan latar belakang budaya serta hubungan emosional antar anggota tersebut. 

C. RUMUSAN MASALAH 
Adapun kuliah lapangan ini diadakan, adalah untuk mengetahui bagaimana komitmen berorganisasi dari organisasi kedaerahan yang bersifat non-provit. 

D. TUJUAN PENELITIAN 
Kuliah lapangan ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Struktur organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta 2. Proses seleksi dan rekruitmen anggota serta pengurus organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta 3. Komitmen dalam anggota organisasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta 

E. HASIL WAWANCARA 
Berdasarkan wawancara yang dilakukan, organisasi kedaerahan adalah termasuk organisasi yang termasuk organisasi non profit dimana dibutuhkan komitmen organisasi dikuatkan sebagai bentuk sikap profesionalitas keanggotaan. Pada kepengurusan periode 2010-2011 program kerja IPMKR-Y 100% terlaksana. Berganti kepengurusan peride 2011-2012 masih dengan ketua yang sama yaitu sdr.Purnama Eko Retahaditi namun kepengurusan periode ini tidak lebih baik dari kepengerusan sebelumnya, meskipun cara perekrutan anggota kepengurusan perode 2011-2012 lebih terkoordinir dan lebih sistematis. Ditambah lagi pada kepengerusan tahun ini departemen IPMKR-Y bertambah menjadi enam, yaitu advokasi, dimana departemen ini mengurus masalah hukum yang terjadi di IPMKR-Y. Jika dilihat dari sistematika kepengurusan, periode 2011-2012 lebih terkoordinir, hal ini dapat dilihat dari proses seleksi anggotanya yang melewati proses interview dan seleksi yang lebih ketat. Sehingga dari interview tersebut kita dapat mengetahui bagaimana komitmen, loyalitas, totalitas serta keprofesionalitasan anggota dalam organisasi. Interview dilakukan 4 orang, yaitu ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara ke setiap asrama. Komitmen yang dituju di dalam organisasi kedaerahan ini adalah komitmen yang membuat organisasi yg sehat, dan kita sebagai pengurusnya cinta terhadap organisasi tersebut,dan mengerti apa misi visi organisasi ini. Dengan kecintaan terhadap organisasi, maka anggota mempunyai totalitas, loyalitas, profesionalitas, pengorbanan, serta mendahulukan kepentingan organisasi dibandingkan pribadi. Organisasi kedaerahan termasuk organisasi non-profit yang tidak menghsilkan laba berupa uang, terlintas pertanyaan bagaimana cara menjaga komitmen organisasi yang mereka jalani. Beberapa sumber berbicara dikarenakan merasa nyaman dengan lingkungan organisasi, maka komitmen itu tetap berjalan hingga kini. Karena mereka mempunyai tujuan satu, membawa nama Kepulauan Riau dan tujuan itu terikat secara emosional. Komitmen anggota bisa dilihat rapat anggota, apakah malas-malasan, atau tidak adanya totalitas ketika organisasi mengadakan event-event nasional. Disana bisa dilihat letak profesionalitasan anggota organisasi. Komitmen organisai terikat bukan karena adanya profesionalitas tetapi adanya hubungan emosional yang sudah terjalin sejak dulu dan mengikat satu sama lain. 

F. ANALISA 
Meyer dan Allen (1991) merumuskan suatu definisi mengenai komitmen dalam berorganisasi sebagai suatu konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi. Berdasarkan definisi tersebut anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi dibandingkan anggota yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasi. Dalam organisasi IPMKR-Y, wawancara dan proses seleksi anggotanya yang melewati proses interview dan seleksi yang lebih ketat. Sehingga dari interview tersebut kita dapat mengetahui bagaimana komitmen, loyalitas, totalitas serta keprofesionalitasan anggota dalam organisasi. Karena wawancara dilakukan Interview 4 pengurus inti, yaitu ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara ke setiap asrama, sehingga mereka akan mengerti orang-orang berkompeten yang memenuhi syarat-syarat di dalam organisasi. Komitmen afektif mengarah pada the employee's emotional attachment to, identification with, and involvement in the organization. Ini berarti, komitmen afektif berkaitan dengan keterikatan emosional karyawan, identifikasi karyawan pada, dan keterlibatan karyawan pada organisasi. Organisasi ini memiliki rasa kekelurgaan yang sangat kuat. Komitmen organisasi terikat bukan karena adanya profesionalitas tetapi adanya hubungan emosional yang sudah terjalin sejak dulu dan mengikat satu sama lain. Para anggotanya memiliki tujuan membawa Kepulauan Riau ke kancah nasional,sehingga dilihat dari teori Meyer dan Allen (1991), komitmen yang dimiliki anggota adalah komitmen afektif. Wiener (dalam Allen & Meyer, 1990) mendefinisikan komponen komitmen ini sebagai tekanan normatif yang terinternalisasi secara keseluruhan untuk bertingkah laku tertentu sehingga memenuhi tujuan dan minat organisasi. Sehingga, komitmen yang dituju di dalam organisasi kedaerahan ini adalah komitmen yang membuat organisasi yg sehat, dan kita sebagai pengurusnya cinta terhadap organisasi tersebut,dan mengerti apa misi visi organisasi ini. Dengan kecintaan terhadap organisasi, maka anggota mempunyai totalitas, loyalitas, profesionalitas, pengorbanan, serta mendahulukan kepentingan organisasi dibandingkan pribadi. Berdasarkan dari teori yang dikemukakan oleh Meyer, dapat terlihat bahwa komitmen yang terjadi dalam organisasi daerah Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau-Yogyakarta didasari oleh adanya persamaan latar belakang budaya serta hubungan emosional antar anggota tersebut 

G. KESIMPULAN 
Perubahan kepengurusan 2010-2011 adanya perekrutan anggota melalui proses interview Sehingga dari interview tersebut kita dapat mengetahui bagaimana komitmen, loyalitas, totalitas serta keprofesionalitasan anggota dalam organisasi Komitmen yang dituju di dalam organisasi kedaerahan ini adalah komitmen yang membuat organisasi yg sehat, dan kita sebagai pengurusnya cinta terhadap organisasi tersebut,dan mengerti apa visi misi organisasi ini. Dengan kecintaan terhadap organisasi, maka anggota mempunyai totalitas, loyalitas, profesionalitas, pengorbanan, serta mendahulukan kepentingan organisasi dibandingkan pribadi. 

DAFTAR PUSTAKA 
Diunduh dari: http://staff.ui.ac.id/internal/131998622/material/Arisan86-KomitmenOrganisasi-Liche.pdf; 24 Desember 2011, 19.43 
Diunduh dari http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/area-terapan-mainmenu-30/organisasi-mainmenu-66/komitmen-organisasi-mainmenu-70; 24 Desember 2011; 20.26 

Untuk hasil yang lebih lengkap dalam bentuk Microsoft Word, silahkan download disini

Related Post



0 komentar:

Popular Posts

Berita Hari Ini